Ketua PD PWILS Pati Sowan ke Mbah Yai Muad, Tabayun Soal Kuburan Habib Alydrus di Area Makam Mbah Mutmakkin
Kemarin, Kamis (28/5/2026), suasana penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan antara Ketua PWILS-PD (Perjuangan Walisongo Laskar Sabilillah
Warta Batavia - PATI | Kemarin, Kamis (28/5/2026), suasana penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan antara Ketua PD PWILS (Pengurus Daerah - Perjuangan Walisongo Laskar Sabilillah ) Kabupaten Pati, H. R. Fakhruroji, bersama dua orang anggotanya dengan salah satu sesepuh yayasan Makam Mbah Mutomakin, Mbah Yai Muad. Pertemuan yang berlangsung di kediaman Mbah Yai Muad di Kajen tersebut digelar dalam rangka silaturahmi (sowan) sekaligus tabayun atau klarifikasi terkait fenomena bangunan kuburan yang viral di masyarakat.
Viralnya kuburan habib Alydrus yang berdiri lebih tinggi dan lebih besar di area makam Mbah Mutamakkin menjadi perbincangan hangat publik. Lokasi makam tersebut berada di sebelah makbaroh (bangunan makam) para sesepuh pendiri Pondok Pesantren Kajen, di antaranya makbaroh Salam Sepuh serta Mbah Yai Sahal Mahfud — seorang tokoh besar, sosok Rois Am Nahdlatul Ulama (NU) pada masanya yang dikenal menasyarubkan (mengedarkan) sebagian harta dan tenaganya untuk keselamatan organisasi besar NU pada zamannya.
Kedatangan PD PWILS Pati: Silaturahmi dan Mohon Petunjuk
H. R. Fakhruroji, yang akrab disapa Roji, selaku Ketua PD PWILS Kabupaten Pati menyampaikan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya ke rumah Mbah Yai Muad adalah untuk bersilaturahmi (sowan) serta memohon petunjuk kepada sesepuh yayasan Makam Mbah Mutamakkin.
Dalam pertemuan tersebut, Roji mengutarakan adanya bangunan kuburan yang berdiri besar dan lebih tinggi dari makbaroh di sebelahnya. Menurut pengamatan, makbaroh yang berjejer rapi dan santun menunjukkan keilmuan, kemuliaan, serta tata krama berakhlak mulia. Makbaroh tersebut adalah milik para kasepuhan pendiri Pondok Pesantren Kajen yang juga merupakan pejuang agama yang telah membangun spiritual umat Islam di Kajen. Di antaranya adalah Mbah Salam dan Mbah Muad sendiri — juga Mbah Sahal Mahfud seorang pejuang agama serta Rois Am PBNU pada zamannya.
Roji kemudian memohon petunjuk, mengklarifikasi, mengonfirmasi, dan bertabayun kepada Mbah Yai Muad terkait bangunan kuburan Habib Alydrus tersebut. Beberapa pertanyaan diajukan secara langsung oleh Roji kepada Mbah Yai Muad:
1. "Kenapa bangunan kuburan Alydrus itu bisa berada di situ, Mbah Yai?"
2. "Kok bisa bangunan kuburan Alydrus lebih besar?"
3. "Lebih tinggi dari makbaroh para ulama karismatik sesepuh Kajen?"
4. "Bukankah itu tidak sopan, seolah-olah merendahkan ulama sepuh Kajen?"
5. "Dan pembangunannya mendapat izin dari yayasan Mbah Mutamakkin?"
Jawaban Mbah Yai Muad: Penjelasan Gamblang Asal-usul Kuburan Habib Alydrus
Menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Mbah Yai Muad menjawab dengan penuh kesantunan dan tutur kata yang sejuk, jelas, serta gamblang. Beliau menceritakan asal-usul kuburan Habib Alydrus yang dimakamkan di lokasi tersebut.
"Dulu, Alydrus itu menikah dengan orang Bulumanis, tetangga Desa Kajen. Setelah meninggal dunia, beliau dimakamkan di pemakaman umum Desa Kajen. Itu sudah sejak dahulu kala sudah ada," jelas Mbah Yai Muad.
Beliau menegaskan bahwa posisi awal makam Alydrus berada di luar bangunan makbaroh keluarga Mbah Mutamakkin. Namun, seiring waktu, terjadi pelebaran pembangunan area makam keluarga Mbah Mutmakkin. Kondisi teknis di lapangan menyebabkan letak struktur bangunan kuburan Alydrus yang lama mepet dengan tembok bangunan yang baru. Karena kondisi tersebut, proses pelurusan struktur pembangunan makbaroh keluarga Mbah Mutamakin akhirnya membuat kuburan Alydrus terlihat seolah-olah masuk ke dalam bangunan area keluarga besar Mbah Mutamakkin.
Penegasan: Kuburan Alydrus di Luar Makbaroh Keluarga Mbah Mutamakkin
Mbah Yai Muad dengan tegas menyatakan bahwa jika dicermati dengan seksama, letak kuburan Alydrus sebenarnya masih di luar makbaroh keluarga Mbah Mutamakkin. Dengan kata lain, makam tersebut bukan bagian dari keluarga besar Mbah Mutamakkin.
"Yang membangun kuburan itu anaknya Alydrus sendiri dari Arab," ungkap Mbah Yai Muad dengan tegas kepada H. R. Fakhruroji dan kedua anggotanya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab dugaan publik yang sempat beredar bahwa kuburan Alydrus adalah kuburan baru atau bangunan yang sengaja didirikan tanpa izin. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa makam tersebut telah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum pelebaran area makam keluarga Mbah Mutamakkin dilakukan.
Pesan Mbah Yai Muad: Jangan Arogan, Jaga Kerukunan
Sebagai tokoh sentral dan karismatik yang sangat disegani, Mbah Yai Muad juga menyampaikan pesan penting kepada PD PWILS Pati. Beliau mengingatkan agar organisasi tersebut tidak bersikap arogan dan tidak membuat kegaduhan di masyarakat. Menurut beliau, jika sikap arogan ditampilkan, masyarakat atau umat tidak akan simpatik. Bahkan, bisa-bisa masyarakat menolak keberadaan PWILS yang dinilai sebagian publik sering membuat kegaduhan.
"Jangan arogan. Kalau sering buat arogan, nanti PD PWILS Pati yang dirugikan," pesan Mbah Yai Muad.
Beliau kemudian menambahkan dengan santai seraya tertawa kecil, "Biarlah makam Alydrus itu di situ, tidak apa-apa. Mau dibongkar ya hehehe." Candaan ringan tersebut berhasil mencairkan suasana silaturahmi menjadi lebih familier dan akrab.
Mbah Yai Muad juga menegaskan bahwa pihak yayasan dan para kiai di Kajen tidak mempermasalahkan keberadaan makam Alydrus tersebut. Intinya, bagaimana umat Islam khususnya di Kajen tetap adem, ayem, tentrem, tidak bergejolak, dan tidak ada kegaduhan.
"Mari kita ciptakan suasana adem, ayem, tentrem, rukun, damai antar sesama," ajak Mbah Yai Muad.
Kuburan Alydrus Bukan Ahli Bait Mbah Mutamakkin
Mbah Muad mengulang-ulang penjelasannya dengan jelas sehingga menjawab pertanyaan publik yang selama ini berkembang. Dugaan bahwa kuburan Alydrus adalah kuburan liar sudah terjawab sudah. Faktanya, makam tersebut sudah ada sejak lama dan bukan bagian dari ahli bait (keluarga) Mbah Mutamakkin.
Penegasan berulang kali ini penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat luas agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut. Dengan penjelasan dari sesepuh yang otoritatif seperti Mbah Yai Muad, publik diharapkan dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada.
Akhir Pertemuan: Doa Bersama untuk Kedamaian
Silaturahmi antara PD PWILS Pati dengan tokoh besar karismatik Mbah Yai Muad siang itu diakhiri dengan doa bersama. Seluruh hadirin kemudian saling bersalaman, tasliman wa tasliman, wasalaman sebagai bentuk penghormatan dan penutup pertemuan yang hangat.
H. R. Fakhruroji selaku Ketua PD PWILS Pati bersama anggotanya menegaskan bahwa tujuan dari langkah yang mereka lakukan semata-mata untuk menjaga kewibawaan dan kehormatan makam bersejarah para ulama dan pendiri Pondok Pesantren Kajen. Mereka ingin memastikan tidak terjadi penjajahan pihak asing atau tindakan yang dapat merendahkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para sesepuh.
Dampak Tabayun: Meredam Suasana dan Membangun Komunikasi
Masyarakat Pati, khususnya warga Kajen, merespons positif hasil tabayun yang dilakukan oleh PD PWILS Pati bersama Mbah Yai Muad. Setelah pemberitaan hasil tabayun tersebut tersebar, suasana yang sempat memanas akibat informasi yang tidak lengkap di media sosial berhasil diredam.
Masyarakat kini mendapatkan edukasi dan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah serta kondisi sesungguhnya di lokasi makam. Proses tabayun ini juga dinilai berhasil membangun komunikasi antar sesama warga menjadi lebih baik, harmonis, dan saling menghormati.
Dengan demikian, tabayun yang dilakukan Ketua PD PWILS Pati bersama Mbah Yai Muad tidak hanya menjawab persoalan teknis tentang letak dan status kuburan Alydrus, tetapi juga menciptakan ketenangan dan kedamaian di tengah masyarakat. Suasana adem, ayem, dan tentrem kembali tercipta di bumi Kajen, Pati. (Qodrat Arispati)



